- Siapkan kompas geologi
- Pegang sisi kompas geologi yang ada tulisan W dengan tanda tangan kanan, dan buka tutup kompas perlahan-lahan.
- Terlihat sisi kompas yang ada tulisan huruf N, berada di bagian sisi yang menjauh dengan pemakai, dan sisi yang ada tulisan huruf S berada di bagian yang mendekati pemakai.
- Cari dan bersihkan permukaan bagian atas perlapisan batuan yang akan diukur strike dan dip-nya. Apabila kemiringan perlapisan batuan lebih kecil 100 maka akan sulit menentukan arah kemiringan. Anda tidak perlu khawatir, ada cara tepat untuk mengatasi hal tersebut. Caranya : tuangkan beberapa tetes air secara perlahan-lahan dipermukaan lapisan batuan yang akan diukur besaran jurus (strike) dan kemiringannya (dip). Arah aliran air merupakan arah kemiringan batuan.
- Pegang kompas geologi pada bagian sisi kanan yang tertulis huruf W, kemudian tempelkan bagian sisi pinggir badan kompas yang ada tulisan E pada permukaan perlapisan batuan. Pilih kedudukan kompas sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga gelembung udara pada niveao tabung berada di tengah-tengah. Tandai dengan goresan pada permukaan lapisan batuan mengikuti bagian pinggir badan kompas yang bersinggungan pada bagian permukaan lapisan batuan, kemudian baca besaran nilai arah jurus (strike) perlapisan batuan, misalnya ujung jarum kompas (yang menunjuk arah N) menunjukan pada angka N 450 E. Tempatkan pinggir sisi badan kompas tegak lurus pada garis yang telah digores pada bidang perlapisan untuk mengukur besaran nilai kemiringan (dip), misalnya diperoleh besaran nilai 600. Plot-kan besaran nilai strike tersebut pada peta kerja berdekatan dengan letak titik pengamatan, kemudian buat garis tegak lurus ditengah-tengah panjang garis strike. Pada peta lapangan dan pada peta geologi arah garis strike digambar dengan mengikuti besaran strike dengan memakai busur derajat. Demi estetika penggambaran, disarankan panjang garis untuk menggambarkan dip ini kurang lebih 1/4 panjang garis untuk menggambar strike. Panjang garis sebagai identitas strike tidak ada batasan ukuran yang baku, tetapi dipilih sedemikian rupa sehingga masih tampak jelas dan peta topografi yang dihasilkan tampak rapi.
Sabtu, 16 Juli 2016
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGGUNAAN KOMPAS GEOLOGI UNTUK MENGUKUR STRIKE DAN DIP
Minggu, 26 Juni 2016
PROSES-PROSES GEOMORFOLOGI
1 Pelapukan
Pelapukan
adalah proses desintegrasi atau disagregasi secara berangsur dari material penyusun
kulit bumi yang berupa batuan. Pelapukan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim,
temperatur dan komposisi kimia dari mineral-mineral penyusun batuan. Pelapukan
dapat melibatkan proses mekanis (pelapukan mekanis), aktivitas kimiawi
(pelapukan kimia), dan aktivitas organisme (termasuk manusia) yang dikenal dengan
pelapukan organis. Dalam geomorfologi, denudasi adalah istilah yang dipakai
untuk mengindikasikan lepasnya material-material melalui proses erosi dan
pelapukan yang berakibat pada berkurangnya ketinggian (elevasi) dan relief dari
bentuk lahan dan bentuk bentangalam. Proses eksogenik (kerja air, es, dan
angin) merupakan faktor yang mendominasi proses denudasi. Denudasi dapat mengakibatkan
lepasnya partikel-partikel yang berbentuk padat maupun material yang berupa larutan.
Secara geomorfologi, pelapukan mekanis maupun kimiawi terjadi dalam hubungannya
dengan pembentukan bentangalam. Terdapat 3 (tiga) jenis pelapukan yang kita
kenal, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.
a.
Pelapukan mekanis adalah semua mekanisme yang dapat mengakibatkan terjadinya
proses pelapukan sehingga suatu batuan dapat hancur menjadi beberapa bagian
yang lebih kecil atau partikel-partikel yang lebih halus. Mekanisme dari proses
pelapukan mekanis antara lain adalah abrasi, kristalisasi es (pembekuan air)
dalam batuan, perubahan panas secara cepat (thermal fracture), proses hidrasi,
dan eksfoliasi/pengelupasan yang disebabkan pelepasan tekanan pada batuan
karena perubahan tekanan.
b.
Pelapukan kimiawi (dikenal juga sebagai proses dekomposisi atau proses
peluruhan) adalah terurai/pecahnya
batuan melalui mekanisme kimiawi, seperti karbonisasi, hidrasi, hidrolisis, oksidasi dan pertukaran ion-ion dalam larutan. Pelapukan kimiawi merubah komposisi mineral
mineral dalam batuan menjadi mineral permukaan seperti mineral lempung. Mineral-mineral
yang tidak stabil yang terdapat dalam batuan akan dengan mudah mengalami
pelapukan apabila berada dipermukaan bumi, seperti basalt dan peridotit. Air merupakan
agen yang sangat penting dalam terhadinya proses pelapukan kimia, seperti pengelupasan
cangkang (speriodal weathering) pada batuan.
c.
Pelapukan organis dikenal juga sebagai pelapukan biologis dan merupakan istilah
yang umum dipakai untuk menjelaskan proses pelapukan biologis yang terjadi pada
penghancuran batuan, termasuk proses penetrasi akar tumbuhan kedalam batuan dan
aktivitas organisme dalam membuat lubang-lubang pada batuan (bioturbation),
termasuk didalamnya aksi dari berbagai jenis asam yang ada dalam mineral
melalui proses leaching. Pada hakekatnya pelapukan organis merupakan perpaduan
antara proses pelapukan mekanis dan pelapukan kimiawi.
Gambar 1. Pelapukan Mekanis
Gambar 2. Pelapukan Kimia
Gambar 3. Pelapukan Organis
Hasil
akhir dari ke-tiga jenis pelapukan batuan tersebut diatas dikenal sebagai soil
(tanah). Oleh karena tanah merupakan hasil dari pelapukan batuan maka berbagai
jenis tanah, seperti Andosol, Latosol atau Laterit tergantung pada jenis batuan
asalnya. Proses pelapukan, baik secara mekanis yang disebabkan antara lain oleh
perubahan temperatur panas , dingin, angin, hujan, es, pembekuan pada batuan
menyebabkan batuan induk mengalami disintegrasi (perombakan) menjadi bagian yang
lebih kecil, sedangkan proses kimiawi yang disebabkan oleh larutan asam,
kelembaban merubah mineral-mineral menjadi ion-ion, oksidasi besi dan alumina,
mineral silika akan menghasilkan lapisan lapisan lempung.
2. Erosi.
Erosi
adalah istilah umum yang dipakai untuk proses penghancuran batuan (pelapukan)
dan proses pengangkutan hasil penghancuran batuan. Proses erosi fisika disebut
sebagai proses corration (erosi mekanis) sedangkan proses erosi kimia disebut
dengan corrosion. Agen dari proses erosi adalah gaya gravitasi, air, es, dan
angin. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, erosi dapat dibagi menjadi 5 (lima)
yaitu:
2.1. Erosi alur (Riil erosion)
Erosi
alur adalah proses pengikisan yang terjadi pada permukaan tanah (terain) yang disebabkan
oleh hasil kerja air berbentuk alur-alur dengan ukuran berkisar antara beberapa
milimeter hingga beberapa centimeter. Pada dasarnya erosi alur merupakan tahap
awal dari hasil erosi air yang mengikis permukaan tanah (terrain) membentuk
alur-alur sebagai tempat mengalirnya air. Pada perkembangannya erosi alur akan
berkembang menjadi erosi ravine.
Gambar 4. Erosi Alur
2.2 Erosi Berlembar (Sheet Erosion)
Erosi
berlembar adalah proses
pengikisan air yang terjadi pada permukaan tanah yang searah dengan
bidang permukaan tanah, biasanya terjadi pada lereng-lereng bukit yang
vegetasinya jarang
atau gundul.
Gambar 5. Erosi Berlembar
2.3.
Erosi drainase (ravine erosion)
Erosi
drainase adalah proses pengikisan yang disebabkan oleh kerja air pada
permukaan tanah (terrain) yang membentuk saluran-saluran dengan lembah-lembah
salurannya berukuran antara beberapa centimeter hinggga satu meter.
Gambar 6. Erosi Drainase Ukuran centimeter
Gambar 7. Erosi Drainase Ukuran Meter
2.4.
Erosi saluran (gully erosion)
Erosi
saluran adalah erosi yang
disebabkan oleh hasil kerja air pada permukaan tanah membentuk saluran-saluran
dengan ukuran lebar lembahnya lebih besar 1 (satu) meter hingga beberapa meter.
Gambar 8. Erosi Saluran
2.5 Erosi lembah (valley erosion)
Erosi
lembah adalah proses dari kerja
air pada permukaan tanah (terrain) yang berbentuk saluran-saluran dengan ukuran
lebarnya diatas sepuluh meter.
Gambar 9. Erosi Lembah
3 Mass Wasting
Mass wasting pada
dasarnya adalah gerakan batuan, regolith, dan tanah kearah kaki lereng sebagai
akibat dari pengaruh gaya berat (gravity) melalui proses rayapan (creep),
luncuran (slides), aliran (flows), rebah (topples), dan jatuhan (falls). Mass
wasting umumnya terjadi di daratan maupun di lautan terutama di lereng benua.
Longsoran merupakan satu contoh yang spektakuler dari mass wasting. Hasil
pelapukan batuan yang berada di puncak puncak bukit akan tertransport sebagai
debris ke arah kaki bukit, sedangkan air sungai bertindak sebagai ban berjalan
yang membawa material hasil pelapukan menjauh dari sumbernya. Walaupun
sepanjang perjalanannya, material hasil pelapukan batuan yang dibawa oleh air
sungai kadang-kadang berhenti untuk sementara waktu, namun pada akhirnya
material tersebut akan diendapkan di tempat terakhir, yaitu di laut.
Gambar 10. Mass Wasting Tipe Jatuhan
4 Sedimentasi
Sedimentasi adalah
suatu proses pengendapan material yang ditranport oleh media air, angin, es/gletser
di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dari
proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan
Sand Dunes yang terdapat di gurun-gurun dan di tepi pantai adalah hasil dari
pengendapan material-material yang diangkut oleh angin. Bentangalam yang
ada saat ini adalah hasil dari proses proses geologi yang terjadi di masa lampau.
Pada saat ini proses proses geologi (endogenik dan eksogenik) tetap berlangsung dan secara berlahan dan pasti akan
merubah bentuk bentang alam yang ada saat ini. Proses proses eksogen yang
terjadi di permukaan bumi dapat dikelompokkan berdasarkan agen/media yang mempengaruhinya,
yaitu air, angin, gletser dan iklim.
Gambar 11. Sedimentasi Sungai
Selasa, 21 Juni 2016
KRISTALOGI DAN MINERALOGI
1.1 DEFINISI
Mineral adalah padatan homogen yang
terbentuk secara alamiah dari mineral anorganik
dengan komposisi kimia yang
spesifik dan sifat fisik tertentu. Suatu mineral tersusun oleh unsur-unsur
dalam berbagai bentuk ikatan atom yang meliputi ikatan kovalen, ikatan ionik,
ikatan logam, ikatan van der Waals, dan ikatan hidrogen. Mineral-mineral
tersebut terutama mengandung unsur-unsur yang menempati bagian tersebut di
bumi.
1.2 PENGENALAN MINERAL
Meneral
dapat dikenali berdasarkan sifat fisik umum yang dimiliki suatu mineral.
Perbedaan sifat fisik mineral disebabkan oleh perbedaan kompisisi mineral dan
bentuk ikatan atom unsur-unsur penyusunnya, sebagai contoh NaCl dapat dengan
mudah dirasakan. Mineral-mineral yang lain dapat terlihat dari sifat fisik
seperti bentuk kristal, sifat belahana atau warna, atau dengan peralatan yang
sederhana seperti pisau atau potongan gelas dengan mudah diuji kekerasannya.
1.3 SIFAT-SIFAT MINERAL
1.3.1 Bentuk Kristal dan Perawakan
Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion
penyusunnya terkemas secara teratur polanya berulang melebar secara tiga
dimensi. Dengan demikian, suatu
kristal dibatasi permukaannya (sisi kristal) yang mencerminkan struktur dari
dalam mineral. Istilah untuk mineral yang memiliki bentuk kristal yang
sempurna adalah euhedral, separuh sempurna subhedral, dan tidak sempurna adalah
anhedral. Bentuk kristal dipengaruhi oleh proses percepatan kristalisasinya,
semakin lambat proses kristalisasinya maka akan semakin sempurna bentuk kristal
mineral atau sebaliknya. Bentuk kristal ditentukan berdasarkan sifat-sifat
simetrinya yaitu, bidang simetri dan sumbu simetri. Dikenal tujuh system
Kristal (Gambar 3) yaitu : Kubus (Cubic),
Tetragonal, Ortorombik (Orthorombic),
Moniklin (Monoclonic), Triklin (Triclinic), Hexagonal dan Trigonal.
Gambar 1 Pendinginan cepat bentuk kristal tidak sempurna
Gambar 2 Pendinginan lambat bentuk kristal sempurna
Gambar 3 Bentuk kristal dari 7 sistem kristal
1.3.2 Warna dan Gores
Warna dari mineral adalah warna yang
terlihat di permukaan yang bersih dan sinar yang cukup. Suatu mineral dapat
berwarna terang, transparan (tidak berwarna), atau memperlihatkan warna yang
berangsur atau berubah. Warna sangat bervariasi, umumnya karena perbedaan
kompisisi kimia atau pengotoran pada mineral.
Gores/cerat adalah warna dari serbuk
mineral. Terlihat bila mineral digoreskan pada lempeng kasar porselen
meninggalkan warna goresan (Gambar 4)
Gambar 4 Cerat pada mineral
1.3.3 Kilap
Kilap
adalah kenampakan pada permukaan mineral akibat dari hasil pantulan cahaya. Ini
akan tergantung pada kualitas fisik permukaan (kahalusan dan transparansi).
Jenis-jenis kilap pada mineral disajikan pada Gambar 5.
1.3.4 Belahan
Belahan adalah kecenderungan dari beberapa
Kristal mineral untuk pecah melalui bidang lemah yang terdapat pada struktur
kristalnya. Arah belahan ini umumnya sejajar dengan satu sisi-sisi Kristal.
Kesempurnaan belahan dalam istilah sempurna, baik, cukup atau buruk. Beberapa
bentuk belahan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Bidang belahan pada mineral
Keterangan :
A. Belahan 1 arah (mineral mika)
B. Belahan 2 arah saling tegak lurus (Feldspar)
C. Belahan 2 arah tidak tegak lurus (Amfibol)
D. Belahan 3 arah saling tegak lurus (Halit)
E. Belahan 3 arah tidak tegak lurus (Kalsit)
F. Belahan 4 arah (Fluorit)
G.Belahan 6 arah (Sfalerit)
1.3.5 Pecahan
Pecahan
adalah cara mineral pecah tidak melalui bidang lemah atau tidak berhubungan
dengan struktur Kristalnya. Beberapa bentuk pecahan dapat dilihat pada Gambar 7-10
- Pecahan konkoidal, bila memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaan seperti pada kuarsa.
- Pecahan berserat (fibrous) adalah pecahan yang memperlihatkan kenampakan seperti serat, contohnya asbes atau augit.
- Pecahan tidak rata (uneven) adalah pecahan yang memperlihatkan permukaan yang tidak teratur dan kasar, misalnya gipsum.
- Pecahan rata (even) adalah bila permukaannya rata dan cukup halus, contohnya mineral lempung.
- Pecahan runcing (hackly) adalah bila permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing-runcing. Contohnya mineral kelompok logam murni.
- Tanah (earthy) bila kenampakannya seperti tanah, contohnya mineral lempung.
Gambar.7 Pecahan Konkoidal
Gambar.8 Pecahan Berserat
Gambar. 9 Pecahan Runcing
Gambar.10 Pecahan Rata
Gambar.11 Pecahan Tidak Rata
1.3.6 Kekerasan
Kekerasan mineral adalah ketahanannya
terhadap kikisan. Kekerasan ini ditentukan dengan cara menggoreskan satu
mineral yang tidak diketahui dengan mineral lain yang telah diketahui. Dengan cara ini Mohs membuat skala
kekerasan relative dari mineral-mineral (Tabel 1.1) dari mineral yang
paling lunak hingga yang paling keras.
Tabel 1.1 Skala Kekerasan Mohs
Kekerasan Mohs
|
Mineral
|
Formula Kimia
|
Kekerasan Absolut
|
Gambar
|
1
|
Talk
|
Mg3Si4O10(OH)2
|
1
|
|
2
|
Gypsum
|
CaSO4·2H2O
|
3
|
|
3
|
Kalsit
|
CaCO3
|
9
|
|
4
|
Fluorit
|
CaF2
|
21
|
|
5
|
Apatit
|
Ca5(PO4)3(OH–,Cl–,F–)
|
48
|
|
6
|
Felspar Ortoklas
|
KAlSi3O8
|
72
|
|
7
|
Kuarsa
|
SiO2
|
100
|
|
8
|
Topas
|
Al2SiO4(OH–,F–)2
|
200
|
|
9
|
Korundum
|
Al2O3
|
400
|
|
10
|
Intan
|
C
|
1600
|
1.3.7
Massa Jenis
Massa
jenis mineral adalah massa jenis yang berhubungan dengan tipe unsur-unsur yang
menyusun mineral tersebut dan bagaimana unsur-unsur tersebut dalam struktur
atom mineral. Massa jenis mineral dapat diukur dengan sederhana di laboratorium
dengan pendekatan sebagai berikut :
Berat Jenis (BJ) = W 1
(W1-W2)
Keterangan :
W1
= berat butir mineral di udara
W2 = berat butir mineral di dalam air (BJ air =1)
1.3.8
Transparansi
Transparansi
merupakan kemampuan mineral untuk meneruskan cahaya. Suatu obyek terlihat
jelas melalui cahaya yang menembus potongan mineral yang transparan. Bila obyek
tersebut terlihat secara samar, dipakai istilah transculent. Derajat
transparansi pada mineral disajikan pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Tingkat Transparansi Mineral
Transparant
|
Obyek terlihat jelas
|
Sub- Transparant
|
Objek sulit terlihat
|
Transculant
|
Obyek tak terlihat, sinar masih diteruskan dan menembus krisal
|
Sub-Transculant
|
Sinar diteruskan hanya pada tepi Kristal
|
Opaque
|
Sinar tidak tembus
|
1.3.9 Keliatan
Keliatan adalah tingkat ketahanan
mineral untuk hancur atau melentur.
1.3.10 Reaksi Dengan Asam
Beberapa mineral akan bereaksi bila ditetesi
dengan asam hidroklorit (HCl). Pada kalsit terbentuk gelembung-gelembung CO2
dan pada beberapa sulfida bijih terbentuk H2S.
CaCO3 + HCl -----> CaCl + H2O + CO2
Sifat lain untuk beberapa mineral
misalnya rasa, sifat refraksi ganda, dan sifat kemagnetan. Dalam pengenalan
mineral sering digunakan asosiasi mineral untuk mengenal jenis mineral yang
lain.
1.4
KLASIFIKASI MINERAL
Umumnya mineral terdiri atas satu atau
beberapa kation (ion bermuatan positif) dan satu atau satu grup an ion (ion
bermuatan negatif). Sebagai contoh, mineral hamatit (Fe2O3)
memiliki kation Fe (besi) dan anion O (oksigen). Mineral-mineral yang
dikelompokan berdasarkan pada kandungan anion atau grup anion-nya dibagi dalam
beberapa grup seperi oksida, sulfida, karbonat dan silikat, dan lain-lain.
Silikat adalah grup yang paling dominan karena kelimpahannya di kerak dan
mantel bumi.
1.4.1 Mineral Silikat
Mineral
silikat merupakan bagian tersebar dari mineral pembentukan batuan. Mineral ini merupakan kombinasi unsur-unsur
utama yang terdapat di bumi seperti O, Si, Al, Fe, Ca, Na, K, Mg. Perbedaan
yang mudah dapat dilihat dari contoh potongan dari dua mineral dalam batuan adalah warna, yaitu terang dan
gelap. Pengelompokan sederhana ini merupakan dasar yang berguna, karena
terdapat hubungan empiris antara warna, komposisi mineral, serta peranan
individu dalam kristalisasi dan pembentukan batuan.
a.
Mineral Silikat Gelap
Kelompok mineral ini umumnya memiliki kilap
vitrous sampai dull, sifat-sifatnya diringkas pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3 Sifat fisik mineral silikat gelap
Mineral
|
Warna
|
SG
|
Hardness
|
Belahan
|
Olivin
|
Hijau (gelap)
|
3,27-3,37
|
+6,5
|
1 arah
buruk |
Piroksen
|
Hitam-coklat
|
3,2-3,4
|
5,5
|
2 arah
|
Hornblende
|
Hitam
|
3,2
|
5,5
|
2 arah
|
Biotit
|
Coklat
|
2,8-3,2
|
2,5
|
1arah sempurna
|
Garnet
|
Merah-coklat
|
3,5
|
7
|
Tidak
ada |
Hornblende adalah mineral yang mengandung silikat cukup
banyak. Kristalisasinya dari magma mengandung komponen air dan kemungkinan
beralterasi menjadi klorit bila kandungan air cukup banyak.
Biotit merupakan bagian dari kelompok mineral mika yang
berwarna gelap. Ikatan mineral ini sangat lemah, sangat mudah untuk membelah
sepanjang bidang kristalnya. Mengkristal dari magma yang mengandung air pada
batuan beku yang banyak mengandung silika, juga pada batuan sedimen dan
metamorf dapat teralterasi menjadi klorit.
Garnet terlihat pada batuan metamorf. Kriteria untuk
mengenalnya terutama adalah kekerasannya menyamai kuarsa dan hamper tidak ada
belahan. Mineral ini digunakan sebagai bahan kertas yang cukup baik dengan
memanfaatkan butirannya.
b.
Mineral Silikat Terang
Beberapa sifat penting dari mineral-mineral
Silikat Terang dapat dilihat pada Tabel 1.4
Tabel 1.4 Sifat fisik mineral silikat terang
Mineral
|
Warna
|
SG
|
Hardness
|
Belahan
|
Felspar
|
Putih, merah
|
-
|
||
Lempung
|
Putih
|
2,6
|
2-2,5
|
1arah sempurna
|
Kuarsa
|
Tak berwarna, putih, merah
|
2,26
|
7
|
Tidak ada
|
Muskovit
|
Tak berwarna
|
2,7
|
2,5
|
1arah Sempurna
|
Felspar
dibagi dalam dua jenis utama : felspar ortoklas atau K felspar dan Felspar
plagioklas. K felspar terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Felspar
plagioklas merupakan kandungan utama yang penting dan dipakai sebagai dasar
klasifikasi batuan beku.
Mineral lempung terbentuk dari hasil alterasi mineral lain sebagai contoh felspar dengan hadirnya air.
Plagioklas beralterasi menjadi montmorilonite.
Kandungan air yang cukup besar dapat merubah montmorilonite menjadi kaolin yang
merupakan hasil akhir pada proses pelapukan.
Mineral
kuarsa tidak akan berwarna bila murni. Penambahan material lain akan memberi
warna yang beragam seperti hadirnya mangan memberi warna kemerahan. Kuarsa
banyak dijumpai pada batuan yang kaya silika misalnya saja granit. Kuarsa
dimanfaatkan sebagai bahan kaca dan untuk industry alat-alat listrik
Muskovit termaksuk kelompok mineral mika yang hampir sama dengan biotit, banyak dijumpai pada batuan beku yang kaya akan silika. Digunakan sebagai bahan isolasi panas atau listrik. Muskovit juga terdapat pada batuan sedimen dan metamorf. Seperti jenis mika lainnya mineral muskovit beralterasi menjadi montmorilonite.
Muskovit termaksuk kelompok mineral mika yang hampir sama dengan biotit, banyak dijumpai pada batuan beku yang kaya akan silika. Digunakan sebagai bahan isolasi panas atau listrik. Muskovit juga terdapat pada batuan sedimen dan metamorf. Seperti jenis mika lainnya mineral muskovit beralterasi menjadi montmorilonite.
1.4.2
Mineral Non Silikat
a.
Mineral Logam
Kebanyakan Mineral logam mempunyai
komposisi kimia yang sederhana berupa unsur sulfida yaitu bila unsur logam
bersenyawa dengan unsur sulfur atau oksida jika unsur logam bersenyawa dengan
oksigen. Sifat dari mineral logam dapat dilihat pada tabel 1.5.
Tabel 1.5 Sifat mineral logam
Mineral
|
Warna
|
Gores
|
SG
|
Hardness
|
Galena PbS
|
Abu-abu
|
hitam
|
7,5
|
2,5
|
Sphalerite T
|
Coklat-kemerahan
|
hitam
|
4
|
4
|
Pirit FeS2
|
Kuning
|
hitam
|
5
|
6
|
Magnetit Fe3O4
|
Hitam
|
hitam
|
5
|
|
Limonite Fe2O3
|
Hitam tanah
|
coklat
|
4
|
5
|
Hematit Fe2O3
|
Hitam, abu-abu
|
coklat
|
5
|
5,5
|
Pirit
berbentuk kubus terdapat di batuan beku yang kaya silika. Pirit dapat
dimanfaatkan untuk diambil sulfurnya.
Magnetit
terdapat dihampir semua batuan beku dan batuan metamorf, seringkali berasosiasi
dengan klorit. Pada batuan sedimen, magnetit dijumpai sebagai butiran yang
terkonsentrasi karena massa jenis yang berbeda.
Hematit
dapat dijumpai hampir di semua batuan, dan terkonsentrasi dalam bentuk urat
membentuk jebakan yang ekonomis. Pada batu pasir seringkali berfungsi sebagai
semen.
b.
Mineral Non Logam
Mineral non logam yang paling sering dijumpai
adalah karbonat sebagian besar lagi adalah kalsit, dan gips. Semuanya berwarna
putih atau tak berwarna. Sering dijumpai dalam bentuk urat bersama bijih logam
dan hanya sebagai mineral gangue.
Tabel 1.6 Sifat mineral non logam
Mineral
|
Warna
|
SG
|
Kekerasan
|
Belahan
|
Barite, BaSO4
|
putih
|
4,5
|
3,5
|
2 arah
|
Fluorite, CaF2
|
beragam
|
3
|
4
|
4 arah
|
Gipsum, CaSO42H2O
|
Putih-tak berwarna
|
2
|
2
|
1 arah
|
Halite, NaCl
|
Tak berwarna
|
2
|
2
|
3 arah
|
Kalsit, CaCO3
|
Putih-tak berwarna
|
3
|
2,7
|
3 arah
|
1.5
PERMATA
Permata
adalah batuan atau mineral yang dapat dipotong dan dipoles menjadi perhiasan.
Dari sekitar 3000 mineral pembentuk kerak bumi, hanya ada sebagian kecil yang
dikenal sebagai batu mulia atau batu permata. Keindahan permata terletak pada
warna dan cara mineral tersebut memantulkan cahaya. Ukuran berat batu permata
adalah karat3 yang setara dengan 0,2 gram namun tidak jarang
digunakan satuan metrik.
Beberapa
batu permata yang paling berharga adalah :
- Intan : intan berbentuk prisma sehingga bila terkena cahaya akan memantul dan menghasilkan warna pelangi. Intan adalah mineral paling keras di antara mineral-mineral yang lainnya. Umumnya berwarna terang bening namun kadang ditemukan juga berwarna hitam yang bernama bort dan karbonado.
Gambar.12 Intan
- Korundum : kekerasan korundum satu tingkat di bawah intan. Nama lain untuk korundum adalah batu mirah delima/ruby yang berwarna merah dan batu nilam/safir yang berwarna biru.
Gambar. 13 Korundum berwarna merah
Gambar.14 Korundum berwarna biru
- Beril : Beril dikenal dengan nama pasar sebagai jambrut dicirikan oleh warna hijau yang khas.
Gambar.15 Beril
Kebanyakan
batu permata berwarna bening dan tembus cahaya. Namun banyak pula batu permata
yang kedap cahaya seperti batu giok yang merupakan mineral silikat. Salah satu
batu permata yang dapat berubah-ubah warnanya adalah mineral opal.
Gambar. 16 Mineral Opal
Langganan:
Postingan (Atom)
























